Rima dan Irama Pembentuk Bunyi yang Harmonis

Rima dan irama pada puisi akan membentuk kesesuaian bunyi yang harmonis dan padu dalam membangun satu-kesatuan makna yang utuh. Timbulnya irama disebabkan oleh pengulangan bunyi dari rima yang dibentuk secara berturut-turut atau bervariasi.

Pengertian Rima

Rima merupakan kata-kata dalam baris puisi. Menurut Amriani (SIMG, 2012) Kata-kata dalam setiap baris puisi memiliki hubungan yang harmonis, padu dalam membangun kesatuan makna yang utuh. Masing-masing kata dalam baris puisi memiliki bunyi yang harmonis. Dalam puisi sering terjadi pengulangan kata-kata tertentu, bunyi tertentu untuk menciptakan konsentrasi yang fokus untuk menciptakan kekuatan magis yang besar, puisi tersebut disebut mantra.

Rani (1997:17) menyatakan rima adalah persamaan atau kesesuaian bunyi. Pada puisi lama, rima atau sajak merupakan pakem atau aturan yang harus dipatuhi. Rima yang variatif dan baik dapat menciptakan daya makan yang kuat dan besar pengaruhnya dalam mantra.

Wirjosudarmo (1993:42) mengelompokkan rima dalam puisi menjadi tiga kelompok yaitu rima menurut bunyi, rima menurut letaknya, dan rima menurut hubungan.

Pengertian Irama

Irama merupakan permainan bunyi kata, frasa, dan kalimat. Permainan bunyi pada akhir kata, frasa, dan kalimat dapat dengan nada panjang, pendek, tinggi, sedang, rendah atau lembut. Penggunaan nada-nada pada puisi lama dan baru selalu digunakan secara simultan dan berkesinambungan untuk mendapatkan bunyi yang merdu dan indah. Pradopo (1993:40) menyatakan irama adalah turun naik, panjang pendek, tekanan keras, tekanan lembut, nada tinggi, dan nada rendah yang diucapkan secara teratur. Irama dikelompokkan menjadi dua, yaitu: metrum dan ritme.

Metrum adalah irama yang sifatnya tetap. Dalam metrum pergantian irama antar baris dan antar alinea sudah ditentukan. Jumlah kata dalam baris sudah tertentu. Semuanya sudah ada pola nya. Demikian juga tekanan nada tinggi, rendah, turun, dan naik pada akhir kata dan akhir baris sudah ditentukan. Bunyi pada setiap akhir baris sudah ditentukan vokal dan konsonan nya. Suku kata pada akhir baris yang sudah ditentukan tidak dapat diganti. Puisi yang menggunakan metrum yang ketat, meliputi: tembang jawa dan macapat. Tembang jawa memang macam-macam jenisnya, tetapi masing-masing jenis menggunakan pola yang tetap.

Ritme adalah irama yang disebabkan perubahan bunyi tinggi rendah secara teratur. Pola nya tidak selalu sama. Jumlah kata, suku kata dalam setiap baris tidak selalu sama. Aturan penggunaan ritme bergantung pada keperluan masing-masing jenis puisi. Ritme merupakan hasil kolaborasi semua jenis nada, intonasi, dan tekanan  yang menghasilkan bunyi merdu dan indah.

Bunyi dibentuk oleh rima dan irama

Dalam puisi, bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi ini erat hubungannya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu, melodi, irama, dan sebagainya. Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas; menimbulkan suasana yang khusus dan sebagainya (Rini intama).

Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama. Namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Rima dan irama inilah yang membentuk efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah, harmonis dan enak didengar. Meskipun tanpa di-lagu-kan.

Leave a Reply