Psikologi Sastra Menurut Para Ahli, Konsep Dasar dan Kriterianya

Psikologi sastra merupakan kajian sastra yang pusat perhatiannya pada aktivitas kejiwaan baik dari tokoh yang ada dalam suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra, bahkan pembaca sebagai penikmat karya sastra.

Pendapat Para Ahli tentang Psikologi Sastra

Menurut Endaswara (2011:96), psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa drama maupun prosa.

Menurut Roekhan (dalam Endaswara, 2011:97-98) psikologi sastra akan ditopang oleh tiga pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologis sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakatnya.

Menurut Semi, (1993:76) pendekatan psikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Untuk melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi.

Konsep Dasar dan Kriteria Pelaksanaan Psikologi Sastra

Di dalam pelaksanaan pendekatan psikologis dalam kajian sastra hanya diambil bagian-bagian yang berguna dan sesuai dengan pembahasan sifat dan perwatakan manusia. Berikut ini beberapa konsepsi dasar dan kriteria yang digunakan pendekatan psikologis.

  1. Karya sastra merupakan produk dari suatu keadaan kejiwaan pemikiran pengarang yang berada dalam situasi setengah sadar atau subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk tertentu secara sadar atau concius dalam bentuk penciptaan karya sastra.
  2. Mutu sebuah karya sastra ditentukan oleh bentuk proses penciptaan dari tingkat pertama, yang berada di alam bawah sadar, kepada tingkat kedua yang berada dalam keadaan sadar.
  3. Disamping membahas proses penciptaan dan kedalaman segi perwatakan tokoh, perlu pula mendapat perhatian dan kajian yaitu aspek makna, pemikiran, dan falsafah yang terlihat di dalam karya sastra.
  4. Karya yang bermutu, menurut pendekatan psikologis, adalah karya sastra yang mampu menyajikan simbol-simbol, wawasan, perlambangan yang bersifat universal yang mempunyai kaitan dengan mitologi, kepercayaan, tradisi, moral, budaya, dan lain-lain.
  5. Karya sastra yang bermutu menurut pandangan pendekatan psikologis adalah karya sastra yang mampu menggambarkan kekalutan dan kekacauan batin manusia karena hakikat kehidupan manusia itu adalah perjuangan menghadapi kekalutan batinnya sendiri.
  6. Kebebasan individu penulis sangat dihargai, dan kebebasan mencipta juga mendapat tempat yang istimewa (Semi, 1993:77-78).

Secara umum berdasarkan pemaparan psikologi sastra di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra merupakan kajian sastra yang pusat perhatiannya pada aktivitas kejiwaan baik dari tokoh yang ada dalam suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra, bahkan pembaca sebagai penikmat karya sastra. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan psikologis pengarang dan sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.

Referensi:

  • Endaswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta: Kav Maduskimo.
  • Semi, M. Atar. 1993. Metodologi Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Gramedia Press.

Leave a Reply