Mempelajari Mantra dari Para Ahli

Mantra merupakan salah satu jenis puisi lama yang bisa diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, dan biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. Dalam sastra melayu lama, kata lain untuk mantra adalah jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru dan tangkal.

Struktur Mantra

Adapun struktur mantra dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rima

Unsur pembangun mantra yang menonjol adalah rima, karena rima ini merupakan satu di antara pembentuk keindahan dalam mantra. Menurut Zaidan dkk (1996:71) menyatakan bahwa rima adalah pengulangan bunyi berselang, baik didalam larik maupun pada akhir sajak yang berdekatan. Bunyi yang berirama itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Sedangkan menurut Aminuddin (1987:137) rima adalah bunyi yang berselang/berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa rima adalah perulangan bunyi yang sama baik di dalam larik puisi maupun akhir larik dan kata-kata atau kalimat yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain secara berselang. Perulangan tersebut dapat terjadi dalam satu baris maupun pada baris lainnya.

Menurut sebagaian orang asonansi, aliterasi dan konsonansi termasuk jenis rima. Berkaitan dengan perulangan bunyi dalam puisi, luxemburg dkk, (1991:90-91) menyatakan bahwa perulangan bunyi merupakan bagian dari organisasi bahasa puisi didalam suatu teks, dan juga pengulangan bunyi merupakan sarana penting guna menyusun bahasa puisi.

Luxemburg dkk, menambahkan pula bahwa dampak yang dapat diperoleh dari perulangan bunyi ialah sugesti bunyi, gerak, suasana, hubungan makna dan ekpresifitas. Berkaitan dengan rima, Atmazaki (1993: 80) mengemukakan bahwa rima persamaan bunyi akhir kata. Bunyi ini berulang secara terpola dan biasanya terdapat di akhir baris sajak, di awal atau di tengah baris.

Macam-macam rima juga digambarkan oleh J.S Badudu yang mengatakan rima ada tiga macam:

1. Rima berdasarkan bunyi

a. Rima sempurna ialah persamaan bunyi dari seluruh suku kata terakhir.

Contoh:  sayur – mayur    muram-suram    malam-kelam  

b. Rima tak sempurna ialah persamaan bunyi akhir pada sebagian suku kata terakhir.

Contoh: pulang-tukang    Pagi-hati    panjang-terbang

c. Rima mutlak ialah persamaan bunyi dari seluruh suku kata.

Contoh:  maju-maju        pilu-pilu        ngilu-ngilu

d. Rima terbuka apabila yang berima itu suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama

Contoh: buka-luka     batu-palu

e. Rima tertutup bila yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama

Contoh: hilang-malang    susut-takut

f. Rima aliterasi

Sebuah rima disebut rima aliterassi bila yang berima itu bunyi-bunyi awal pada tiap-tiap kata yang sebaris maupun pada baris yang berlainan.

Contoh:     bukan beta bijak berperi

g. Rima asonansi.

Sebuah rima disebut rima asonansi bila yang berima ialah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata

Contoh:  ketekunan    kegemukan

h. Rima desonansi ialah pertentangan bunyi  vokal pada suatu kata

Contoh:  kisah-kasih        huru-hara    compang-camping.

2. Rima berdasarkan letak kata-kata dalam baris

a. Rima awal ialah perulangan bunyi yang berlawanan susunannya atau permulaan dua buah kalimat atau lebih.

Contoh:

karena apa binasa badan
kalau tidak karena paku
karena apa binasa badan
kalau tidak karena aku

b. Rima tengah ialah perulangan bunyi antar kata-kata yang terletak di tengah-tangah dua kalimat atau lebih.

Contoh:

anak ikan dipanggang saja
hendak dipindang tiada berkunyit
anak orang dipandang saja
hendak dipinang tiada berduit

 

c. Rima akhir ialah perulangan bunyi pada kata-kata yang terletak di akhir kata dua buah kalimat atau lebih.

Contoh:

akar nibung merendap-resap
akar mati dalam perahu
terbakar kampung kelihatan asap
terbakar hati siapa yang tahu

d. Rima tegak adalah persamaan bunyi kata atau suku kata pada baris-baris yang berlainan.

Contoh:

Asam Pauh dari seberang
Tumbuhnya dekat tepi tebat
Badannya jauh dirantau orang
Sakit siapa yang akan mengobat

e. Rima datar adalah persamaan bunyi kata yang diletakan secara  datar  atau berderet.

Contoh:          Halilintar bergetar bergelegar menyambar-nyambar

f. Rima sejajar adalah kata yang dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun

Contoh:

dapat sama laba
Cicir sama rugi
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing.

g. Rima peluk adalah persamaan bunyi kata atau suku kata yang saling berpelukan atau diapit oleh satu atau dua suku kata yang sama bunyinya.

Contoh:

Hati memuja Tuhan Yang Kuasa (a)
Gerak laku jauhlah hati (b)
Maafkan aku Ya Gusti Duli (b)
Dalam usaha selalu alpa (a)

h. Rima silang adalah persamaan bunyi kata atau suku kata yang diletakkan secara silang.

Contoh:

 

Anak rusa di rumpun salak (a)
Patau tanduknya ditimpa genta (b)
Riuh kebau tergelak-gelak (a)
Melihat beruk berkaca mata (b)

i. Rima  rangkai ialah persamaan bunyi pada beberapa kalimat-kalimat yang beruntun.

Contoh:

 

Akanku persembahkan sebuah kembang (a)
Tapi sayang sungguh sayang (a)
Aku di ketapang kau di singkawang (a)
Hatiku malang bukan kepalang (a)

j. Rima kembar adalah persamaan bunyi kata atau suku kata yang saling berpasangan.

Contoh:

 

Ketika aku mulai membujur (a)
Berbaring di tempat tidur (a)
Bisikku ya; Allah kudus (b)
Berilah aku mimpi yang bagus (b)

k. Rima patah apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima, sedangkan kata pada tempat lain memiliki rima.

Contoh:

Padamu, seribu mawar telah kuberi (a)
Sekedar membeli hati cintamu (b)
Tapi kau tetap mebatu, diam bisu (b)
Walau seribu tahun menunggu, rindu (b)

 

Irama

Hal yang masih erat berhubungan dengan pembicaraan bunyi adalah irama. Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa irama itu pergantian berturut-turut secara teratur (Pradopo, 1993:40).

Pendapat di atas diperkuat oleh pendapat Zaidan, dkk. (1996: 90), yang menyatakan bahwa irama adalah alunan bunyi dalam pembacaan puisi atau tembang yang ditimbulkkan oleh peraturan rima dan satuan sintaksis yang dapat diwujudkan dalam tekanan yang mengeras lembut, tempo yang mencepat-melambat, dan nada yang meninggi-rendah di antara batas-batas yang diwujudkan dalam jeda. Sedangkan menurut Aminuddin (1987:137) irama adalah paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lembut, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa irama adalah pengulangan bunyi suara nada tinggi rendah, keras lembut, panjang pendek yang di bacakan atau dialunkan secara teratur yang sesuai gerak jiwa orang yang mengucapkannya sehingga terdengar indah. Bunyi suara yang dimaksud di sini adalah bunyi mantra yang diucapkan oleh penutur yang akan diekspresikan berdasarkan tinggi rendah, naik turun, panjang pendek, dan keras lembut. Oleh karena itu, setiap bunyi yang ditimbulkan mengandung makna yang sangat esensial bagi pembacanya dan orang yang mendengarnya.

Makna Mantra

Makna adalah isi atau maksud (Peorwadarmenta, 1976: 624). Sedangkan menurut Wiyatmi (2005:73) makna merupakan wilayah isi sebuah puisi. Dari beberapa pengertian tersebut jelaslah bahwa makna adalah apa yang kita artikan dan apa yang kita maksud tentang sesuatu.

Isi atau maksud itu dapat dikemukakan dengan bahasa. Karena bahasa adalah alat komunikasi yang utama. Menilai makna dari sebuah mantra dapat dilihat dari bunyi-bunyi yang berulang dari bahasa puitisnya. Untuk menilai makna sebuah mantra sama halnya dengan meniai puisi, tidak hanya melihat dari bunyi-bunyi yang berulang-ulang dari bahasa puitisnya. Selain dari bunyinya, makna sebuah mantra dapat dilihat dari pemilihan kata dan ungkapan yang sesuai.

Berkaitan dengan makna sebuah mantra, Luxemburg dkk., (1987: 271) menyatakan pencarian makna berdasarkan pengulangan bunyi ini mudah membawa kepada apa yang dicari. Makna sebuah mantra juga dapat dilihat dari temanya. Tema adalah sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang yang diungkapkan didalam karya sastra.

Berdasarkan uraian di atas, cara yang dapat ditempuh untuk menentukan makna sebuah mantra adalah membongkar dan memaparkan bahasa mantra yang dilihat sebagai sistem tanda yang berdasarkan konvensi (kesepakatan) masyarakat. Karena mantra merupakan salah satu kebudayaan yang direfleksikan oleh masyarakat. Untuk memahami sebuah mantra tidak cukup dengan memahami isinya saja, tetapi juga dari latar belakang di mana mantra tersebut dibuat dan fungsinya bagi masyarakat pendukungnya.

 

Leave a Reply