Keadaan Sosial Ekonomi Orang tua

Keadaan sosial ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat,  ada  yang  keadaan  sosial  ekonominya  tinggi, sedang, dan rendah.

Sosial ekonomi menurut Abdulsyani (1994) adalah kedudukan atau posisi sesorang  dalam  kelompok  manusia  yang  ditentukan  oleh  jenis  aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam  organisasi,  sedangkan  menurut  Soerjono  Soekanto  (2001)  sosial ekonomi  adalah  posisi  seseorang  dalam  masyarakat  berkaitan  dengan orang lain dalam arti lingkungan peraulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubunganya dengan sumber daya. Berdasarkan    beberapa    pendapat    diatas,    dapat    disimpulkan pengertian   keadaan   sosial   ekonomi   dalam   penelitian   ini adalah kedudukan  atau  posisi  seseorang  dalam  masyarakat  berkaitan  dengan tingkat  pendidikan,  tingkat  pendapatan  pemilikan  kekayaan  atau  fasilitas serta jenis tempat tinggal.

Faktor-faktor yang menentukan keadaan sosial ekonomi.

Berdasarkan     kodratNya     manusia     dilahirkan     memiliki kedudukan  yang   sama   dan   sederajatnya,   akan   tetapi  sesuai  dengan kenyataan  setiap  manusia  yang  menjadi  warga  suatu  masyarakat,  senantiasa mempunyai  status  atau  kedudukan  dan  peranan.  Ada  beberapa  faktor  yang dapat  menentukan  tinggi  rendahnya  keadaan  sosial  ekonomi  orang  tua  di masyarakat,    diantaranya    tingkat    pendidikan,    jenis    pekerjaan,    tingkat pendapatan,  kondisi  lingkungan  tempat  tingal,    pemilikan  kekayaan,  dan partisipasi  dalam  aktivitas  kelompok  dari  komunitasnya.  Dalam  hal  ini uraiannya dibatasi hanya 4 faktor yang menentukan yaitu tingkat pendidikan, pendapatan, dan kepemilikan kekayaan, dan jenis tempat tinggal.

1. Tingkat Pendidikan

Menurut  UU  RI  No.  20  Tahun  2003  pasal  1,  pada  dasarnya  jenjang pendidikan  adalah  tahapan  pendidikan  yang  ditetapkan  berdasarkan  tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.  Pendidikan  menurut  UU  No.  20  Tahun  2003  tentang  Sistem Pendidikan  Nasional  adalah  usaha  sadar  dan  terencana  untuk  mewujudkan suasana  belajar  dan  proses  pembelajaran  agar  peserta  didika  secara  aktif mengembangkan    potensi    dirinya    untuk    memiliki    kekuatan    spiritual keagamaan,  pengendalian  diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak  mulia,  serta keterampilan   yang   diperlukan   dirinya,   masyarakat,   bangsa   dan   negara.

Pendidikan  adalah  aktivitas  dan  usaha  untuk  meningkatkan  kepribadian dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rokhani (pikir, cipta, rasa,   dan   hati   nurani)   serta   jasmani   (panca   indera   dan   keterampilan-keterampilan).  Menurut  UU  RI  No.  20  Tahun  2003  pasal  3  Pendidikan  bertujuan untuk   “Mencerdaskan   kehidupan   bangsa   dan   mengembangkan   manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang  Maha  Esa  dan  berbudi  pekerti  luhur,  memiliki  pengetahuan  dan ketrampilan,  kesehatan  jasmani  dan  rohani,  kepribadian  yang  mantap  dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Untuk mencapai tujuan tersebut,   pendidikan   diselenggarakan   melalui   jalur   pendidikan   sekolah (pendidikan  formal)  dan  jalur  pendidikan  luar  sekolah  (pendidikan  non formal).   Jalur   pendidikan   sekolah   (pendidikan   formal)   terdapat   jenjang pendidikan  sekolah,  jenjang  pendidikan  sekolah  pada  dasarnya  terdiri  dari pendidikan   prasekolah,   pendidikan   dasar,   pendidikan   menengah,   dan pendidikan tinggi.

a. Pendidikan prasekolah

Menurut PP No. 27 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000), pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan  rohani  peserta  didik  di  luar  lingkungan  keluarga  sebelum  memasuki pendidikan  dasar,  yang  diselenggarakan  di  jalur  pendidikan  sekolah  atau  di jalur pendidikan luar sekolah.

b. Pendidikan dasar

Menurut  PP  No.  28  tahun  1990  dalam  Kunaryo  (2000)  pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun. Diselengarakan selama  enam  tahun  di  sekolah  dasar  dan  tiga  tahun  di  sekolah  menengah lanjutan  tingkat  pertama  atau  satuan  pendidikan  yang  sederajat.  Tujuan pendidikan  dasar  adalah  untuk  memberikan  bekal  kemampuan  dasar  kepada peserta  didik  untuk  mengembangkan  kehidupan  sebagai  pribadi  anggota masyarakat, warga Negara dan anggota umat manusias serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

c. Pendidikan Menegah

Menurut PP No. 29 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000), pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi pendidikan dasar. Bentuk satuan pendidikan  yang  terdiri  atas:  Sekolah  Menengah  Umum,  Sekolah  Menengah Kejuruan, Sekolah Menengah Keagamaan, Sekolah Menengah Kedinasan, dan Sekolah Menengah Luar Biasa.

d. Pendidikan Tinggi

Menurut  UU  No.  2  tahun  1989  dalam  Kunaryo  (2000),  pendidikan tinggi  merupakan  kelanjutan  pendidikan  menengah  yang  diselenggarakan untuk  menyiapkan  peserta  didik  menjadi  anggota  masyarakat  yang  memiliki kemampuan    akademik    atau    professional    yang    dapat    menerapkan, mengembangkan,   atau   menciptakan   ilmu   pengetahuan,   teknologi,   dan kesenian.   Satuan   pendidikan   yang   menyelenggarakan   pendidikan   tinggi disebut  perguruan  tinggi,  yang  dapat  berbentuk  akademi,  politeknik,  sekolah tinggi, institut atau universitas.

2. Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah semua pendapatan kepala keluarga maupun anggota  keluarga  lainnya  yang  diwujudkan  dalam  bentuk  uang  dan  barang. Berdasarkan  jenisnya,  Biro  Pusat  Statistik  membedakan  pendapatan  menjadi dua yaitu:

a) Pendapatan berupa barang

Pendapatan  berupa  barang  merupakan  segala  penghasilan  yang bersifat  regular  dan  biasa,  akan  tetapi  tidak  selalu  berupa  balas  jasa  dan diterimakan  dalam  bentuk  barang  atau  jasa.  Barang  dan  jasa  yang diterima/diperoleh  dinilai  dengan  harga  pasar  sekalipun  tidak  diimbangi ataupun  disertai  transaksi  uang  oleh  yang  menikmati  barang  dan  jasa tersebut.    Demikian    juga    penerimaan    barang    secara    cuma-cuma, pembelian barang dan jasa dengan harta subsidi atau reduksi dari majikan merupakan pendapatan berupa barang.

b) Pendapatan berupa uang

Berdasarkan  bidang  kegiatannya,  pendapatan  meliputi  pendapatan sektor  formal  dan  pendapatan  sektor  informal.  Pendapatan  sektor  formal adalah segala penghasilan baik berupa barang atau uang yang bersifat regular dan  diterimakan  biasanya  balas  jasa  atau  kontrasepsi  di  sektor  formal  yang terdiri  dari  pendapatan  berupa  uang,  meliputi:  gaji,  upah  dan  hasil  infestasi dan pendapatan    berupa    barang-barang    meliputi:    beras,    pengobatan, transportasi, perumahan, maupun yang berupa rekreasi.

Pendapatan  sektor  informal  adalah  segala  penghasilan  baik  berupa  barang maupun  uang  yang  diterima  sebagai  balas  jasa  atau  kontraprestasi  di  sektor informal  yang  terdiri  dari    pendapatan  dari  hasil  infestasi,  pendapatan  yang diperoleh  dari  keuntungan  sosial,  dan  pendapatan  dari  usaha  sendiri,  yaitu hasil  bersih  usaha  yang  dilakukan  sendiri,  komisi  dan  penjualan  dari  hasil kerajinan rumah.

Menurut  Sumardi  dalam  Yerikho  (2007)  mengemukakan  bahwa  pendapatan yang diterima oleh penduduk akan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya. Dengan pendidikan yang tinggi mereka akan dapat memperoleh kesempatan  yang  lebih  luas  untuk  mendapatkan  pekerjaan  yang  lebih  baik disertai   pendapatan   yang   lebih   besar.   Sedangkan   bagi   penduduk   yang berpendidikan  rendah  akan  mendapat  pekerjaan  dengan  pendapatan  yang kecil. Dalam   penelitian   ini   pendapatan   yang   diterima   penduduk   dapat digolongkan berdasarkan 4 golongan status ekonomi menurut Saraswati (2009)

  • Tipe Kelas Atas (> Rp 2.000.000).
  • Tipe Kelas Menengah (Rp 1.000.000 -2.000.000).
  • Tipe Kelas Bawah (< Rp 1.000.000).

3. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas

Pemilikan kekayaan atau fasilitas adalah kekayaan dalam bentuk barang-barang  dimana  masih  bermanfaat  dalam  menunjang  kehidupan  ekonominya. Fasilitas atau kekayaan itu antara lain:

a) Barang-barang berharga

Menurut  Abdulsyani  (1994),  bahwa  pemilikan  kekayaan  yang  bernilai ekonomis  dalam  berbagai  bentuk  dan  ukuran  seperti  perhiasan,  televisi, kulkas   dan   lain-lain   dapat   menunjukkan   adanya   pelapisan   dalam masyarakat.

b) Jenis-jenis kendaraan pribadi.

Kendaraan  pribadi  dapat  digunakan  sebagai  alat  ukur  tinggi  rendahnya tingkat sosial ekonomi orang tua. Misalnya: orang yang mempunyai mobil akan merasa lebih tinggi tingkat sosial ekonominya dari pada orang yang mempunyai sepeda motor.

4. Jenis Tempat Tinggal

Menurut Kaare Svalastoga dalam Aryana untuk mengukur tingkat sosial ekonomi seseorang dari rumahnya, dapat dilihat dari:

  • Status rumah yang ditempati, bisa rumah sendiri, rumah dinas, menyewa, menumpang pada saudara atau ikut orang lain.
  • Kondisi fisik bangunan, dapat berupa rumah permanen, kayu dan bambu. Keluarga yang   keadaan   sosial   ekonominya   tinggi,   pada   umumnya menempati  rumah  permanent,  sedangkan  keluarga  yang  keadaan  sosial ekonominya menengah kebawah menggunakan semi permanen atau tidak permanen.
  • Besarnya rumah yang ditempati, semakin luas rumah yang ditempati pada umunya semakin tinggi tingkat sosial ekonominya. Rumah dapat  mewujudkan  suatu  tingkat  sosial  ekonomi  bagi  keluarga yang    Apabila  rumah  tersebut  berbeda  dalam  hal  ukuran  dan kualitas  rumah.  Rumah  yang  dengan  ukuran  besar,  permanen  dan  milik pribadi dapat menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonominya tinggi berbeda dengan  rumah  yang  keil,  semi  permanen  dan  menyewa  menunjukkan  bahwa kondisi sosial ekonominya rendah.

 

Leave a Reply