Konsep dan Kriteria Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi berasal dari tiga kata yang memiliki makna yang berbeda-beda. (1) Status adalah penempatan orang pada suatu jabatan tertentu. (2) Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakatnya. dan (3) Ekonomi adalah berasal dari kata ekos dan nomos yang berarti rumah tangga. Yang secara harfiah keadaan rumah tangga.

Konsep Status Sosial Ekonomi

Setiap masyarakat yang sedang atau telah menjalani masa transisi akan menunjukkan pola perkembangan yang dipengaruhi oleh gejala-gejala dan masalah-masalah khusus yang berkenaan dengan situasi geografis, ekonomis dan politis. Terjadinya pergolakan dan perubahan struktur masyarakat yang menyangkut perubahan kedudukan golongan-golongan sosial yang mempunyai peranan dan kekuasaan dalam menentukan arah dari gerak perubahan tersebut. Situasi tersebut menunjukkan adanya kekuatan-kekuatan sosial yang menciptakan golongan sosial terkemuka yang akhirnya menjalankan transformasi masyarakat menjadi bangsa yang modern.

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tersebut akan menyebabkan hal tersebut berada pada kedudukan yang lebih tinggi dalam masyarakat. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau sekelompok orang dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.

Theodorson dkk dalam Dictionary of Sociology (dalam Ahmadi, 2009: 197) mengemukakan bahwa ”Pelapisan masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relatif permanen yang terdapat didalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) didalam hal pembedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan”. Status diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajibannya.

Menurut Soekanto (2006: 210), masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan yaitu :

  • Ascribed Status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran dan dijumpai pada masyarakat-masyarakat dengan sitem lapisan sosial tertutup atau masyarakat dimana sistem lapisan tergantung pada perbedaan rasial.
  • Achieved Status, adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran, tetapi bersifat terbuka bagi siapa saja.

Kriteria Penggolongan Status Sosial Ekonomi

Henslin (2007: 92) menyatakan ”Untuk memahami orang, kita harus mempelajari lokasi sosial yang mereka tempati dalam kehidupan. Yang paling berperan adalah kelas sosial yang didasarkan pada penghasilan, pendidikan, dan prestise kerja”. Kelas sosial yang telah terbentuk dapat memberikan pengaruh pada ide dan sikap. Shah, 2010 menyatakan ”Social class is not only determined by income but there are various other factors as well such as: wealth, education, occupation”.

Soekanto (2006: 208) secara lebih lengkap mengemukakan bahwa ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan adalah sebagai berikut :

1. Ukuran kekayaan

Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk kedalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut, misalnya dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadinya, cara-caranya mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.

2. Ukuran kekuasaan

Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atas.

3. Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini, banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.

4. Ukuran ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat yang negatif karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran tetapi gelar kesarjanaan nya.

 

DAFTAR RUJUKAN

  • Ahmadi, Abu. (2009). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  • Henslin, James M. (2006). Sosiologi. (Edisi keenam Jilid 1). (Penerjemah: Kamanto Sunarto). Jakarta: Erlangga.
  • Soekanto, Soerjono. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Oleh Heni Kuswanti

Leave a Reply