Dr. Arjon Kembangkan Kursi Roda Elektrik Super Canggih Berbasis Brain Computer Interface

Meskipun hanya jadi alat bantu bagi orang sakit atau bekebutuhan khusus, kursi roda sangat dibutuhkan. Saat ini, kursi roda yang ada mayoritas yang manual. Artinya hanya digerakan sendiri atau menggunakan bantuan orang lain.

Ada juga kursi roda yang elektrik, yakni dengan menggunakan mesin sehingga bisa digunakan sendiri tinggal memijat tombol, tanpa bantuan orang lain. Tapi itu pun dilakukan, apabila si pengguna kursi roda mampu memijat tombol tersebut dan ia sadar.

Saat ini, seorang doktor dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Arjon Turnip berhasil mengembangkan kursi roda elektrik bagi penyandang disabilitas dan pasien lumpuh hasil penelitian instrumentasi dengan mengembangkan sistem kontrol berbasis brain computer interface dengan sinyal biofeedback.

“Temuan ini merupakan penyempurnaan pengembangan alat yang membantu otak mampu mengendalikan gerakan kursi roda elektrik melalui penerjemaahn sinyal-sinyal listrik dari otak,” ungkap Arjon kepada wartawan di sela-sela acara workshop LIPI di Hotel Aston Tropicana, Jln. Cihampelas Bandung, Kamis (29/10/2015).

“Jadi, dengan sensor yang dipasang, kursi roda tersebut tidak akan menabrak tembok. Atau kalau ada tangga atau misalnya ruang yang membahayakan bagi si pengguna kursi roda maka dengan sendirinya kursi roda akan berhenti. Jadi si pengguna kursi roda tidak akan jatuh walau pun dia tidak bisa menghentikannya sendiri,” jelas Arjon seperti yang dikutip dari galamedianews.com.¬†

Diakuinya saat ini pihaknya masih menunggu proses paten. Sambil menunggu itu ia masih terus menyempurnakannya. Sebab kursi roda yang ada saat ini (prototype) masih menggunakan laptop. Dan belum dicoba digunakan oleh pasien.

“Kita sudah nyoba dan sudah berhasil tapi yang duduk di kursi roda adalah orang normal bukan disabilitas atau orang sakit. Harus ada pasien yang diujicobakan,” katanya.

Teknologi ini merupakan penyempurnaan pengembangan alat yang membuat otak mampu mengendalikan gerakan kursi roda elektrik lewat penerjemahan sinyal-sinyal listrik dari otak.

Peneliti LIPI Arjon Turnip menyebutkan kursi roda elektrik sangat penting mengingat kebutuhan teknologi terutama pengembangan riset instrumentasi, bidang kesehatan di Indonesia sangat tinggi.

“Pengembangan instrumentasi yang paling urgent di Indonesia itu bidang kesehatan. Saya mendapat banyak keluhan dari para dokter, karena alat kesehatan itu (termasuk kursi roda) masih memakai produk dari luar dan jika ada kerusakan harus menunggu lama,” kata Arjon.

Hal serupa diungkapkan Wakil Kepala LIPI Akmadi Abbas seperti yang dikutip dari ANTARAnews terdapat beberapa penelitian instrumentasi strategis yang sangat penting untuk dikembangkan, salah satunya adalah pengembangan alat medis.

Menurutnya produk-produk luar negeri masih mendominasi kebutuhan alat-alat di Indonesia sehingga menyebabkan ketergantungan.

“Selama ini, kita masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap produk-produk luar negeri. Padahal biaya produksinya sangat tinggi, proses pengadaannya sulit, dan pemahaman sumber daya manusia lokal terhadap produk luar juga rendah,” kata Akmadi.

Meski begitu, alat itu belum bisa digunakan langsung untuk umum, namun telah dipresentasikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk pengembangannya.

“Kursi roda ini masih belum bisa bila digunakan langsung oleh masyarakat, masih dalam tahap pengujian, belum tahu bila digunakan oleh difabel yang sebenarnya. Makanya kita bekerja sama dengan dokter untuk mengetahui seperti apa yang dibutuhkan oleh pasien seperti itu,” kata Arjon.

Selain itu LIPI juga bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi serta swasta untuk dapat mempercepat dan peningkatan pembangunan penelitian.

“Saat ini LIPI sedang mempersiapkan kerjasama dengan Universitas Nasional Pusan, Korea Selatan. Selain itu LIPI akan melakukan kerjasama pengembangan SDM bersama ahli-ahli dari ITB, UGM, Unpad dan UI,” katanya.

Leave a Reply